Kretor Konten, Si Pengubah Dunia

America ruled the world, China ruled the world, atau Metallica ruled the world pernah bergema–dan mungkin masih hingga sekarang. Well, itu tergantung dari sudut pandang seseorang menilainya. Berbicara mengenai sudut pandang, satu pernyataan bisa dimasukkan juga: content creator rule the world. Terlalu berlebihankah?

Mari kita coba menganalisanya. Ada banyak definisi tentang kreator konten (content creator). Kita ambil satu saja yang cukup menggambarkan apa itu kreator konten, yakni seseorang yang secara aktif membuat dan menerbitkan konten original kepada audiens di satu atau lebih platform media. Ruang lingkup profesi kreator konten terbilang luas, misalnya penulis, desainer grafis, fotografer, videografer dan masih banyak lagi.

Di era perkembangan teknologi digital yang masif saat ini, individu, komunitas, korporasi hingga institusi negara bisa memiliki media sendiri. Kalau dulu, setiap media harus mereka bayar, sekarang ada media yang bisa mereka ciptakan dan bangun sendiri. Mereka memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, atau YouTube. Sebelum itu semua, mereka juga memiliki website atau sekadar blog dengan pelayanan yang ingin mereka komunikasikan. Belum lagi bicara tentang aplikasi, software-as-a-service (SaaS) dan sebagainya. Tapi, itu semua adalah tool. Siapa di balik tool tersebut? Banyak profesi seperti yang telah disebutkan di atas.

earth-2254769_640

Pasar menjanjikan
Selain perkembangan teknologi digital, keberadaan kreator konten sangat erat kaitannya dengan apa yang disebut ekonomi kreatif. Merujuk data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pada tahun 2015, ekonomi kreatif berkontribusi US$2.250 miliar atau sekitar 3% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia. Industri ini juga mempekerjakan 1% dari populasi dunia.

Seiring dengan kondisi global, ekonomi kreatif nasional terus tumbuh dengan kontribusi lebih dari 7,4% terhadap PDB. Sebanyak 17 juta orang bekerja di sektor ekonomi kreatif atau 14% dari total pekerja dan didominasi oleh wanita, yakni 54%. Angka-angka tersebut diyakini terus tumbuh dan makin inklusif dengan dukungan perkembangan teknologi.

Bergeser ke tahun 2017, Telstra memaparkan temuan global terbaru mengenai bagaimana perubahan tatanan demografis dan tren teknologi digital mampu memacu percepatan kinerja. Di dalam laporannya, Telstra menemukan di Indonesia, sama seperti di Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok, besaran rata-rata daya beli generasi milenial (berusia antara 25–34 tahun) telah melampaui kelompok demografi lainnya. Hal ini menjadikan mereka sebagai kelompok demografi yang paling berharga bagi institusi keuangan. Namun, tidak seperti generasi-generasi sebelumnya, milenial menuntut keterlibatan dalam berinteraksi di platform mobile dengan cara-cara baru yang inovatif.

Di antara negara-negara yang menjadi bagian penelitian oleh Telstra, Indonesia memiliki jumlah milenial terbesar, yaitu sebesar 54%. Perihal penetrasi mobile, milenial Indonesia memiliki angka yang lebih tinggi sebesar 84% dibandingkan di AS, yang memiliki angka penetrasi perangkat mobile terendah, yakni 74%. Seperti AS dan Tiongkok, sebagian besar milenial Indonesia menggunakan layanan keuangan melalui smartphone setiap bulannya. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar-pasar tersebut cenderung menggerakkan kurva pertumbuhan lebih dulu dibandingkan pasar lainnya, seperti Australia, Hong Kong, Selandia Baru, dan Singapura.

Masih di tahun 2017, survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan, total pengguna internet tanah air mencapai 143,26 juta jiwa. Setengah dari angka itu adalah kaum milenial.

Lalu, hasil riset Snapcart tahun 2018 menunjukkan, berdasarkan usia, setengah atau 50% pembelanja merupakan generasi milenial. Kemudian, disusul generasi Z (15–24 tahun) sebanyak 31%, generasi X (35–44 tahun) sebanyak 16%, dan 2% sisanya merupakan generasi baby boomers (usia 45 tahun ke atas).

Penelitian tambahan dari Telstra, yang melibatkan 164 eksekutif jasa keuangan global, menemukan bahwa hampir seluruh organisasi-organisasi tradisional masih membutuhkan transformasi pada model bisnis terdahulu mereka dalam menghadapi tantangan di era digital. Pengguna teknologi digital yang memanfaatkan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan, cloud, APIs dan otomatisasi proses robotik dapat menghemat biaya hingga 67% untuk biaya operasional dan 98% untuk biaya akuisisi pelanggan.

Singkatnya, milenial Indonesia menggerakkan pertumbuhan secara cepat dibandingkan pasar lainnya. Sudah tidak diragukan lagi bahwa konsumsi produk dan layanan mobile digital di kalangan milenial, serta daya beli mereka, telah menjadi indikator utama dalam industri 4.0 saat ini.

Masihkah konten sebagai raja?
Pasar terbuka lebar. Tapi, memenuhi kebutuhan atau keinginan pasar tak semudah mencari keyword tertentu di mesin pencari internet. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah konten.

Beberapa dasawarsa lalu, Bill Gates melontarkan pernyataan, ‘Content is the king’. Masih relevankah pernyataan tersebut saat ini? Jawabannya masih sangat relevan. Kalau ibaratnya tool media (media sosial, web, chat dan sebagainya) adalah senjata, maka kreator konten itu adalah ‘man behind the gun‘.

Semua tool tersebut membutuhkan konten. Penyebarluasan saja belumlah cukup. Tanpa konten yang baik, tidak akan ada trafik untuk situs dan media sosial. Tanpa konten yang efektif, mustahil terjadi proses interaksi dan engagement dengan para pelanggan.

Tak hanya perusahaan, pengusaha individu hingga aktivis nirlaba yang memiliki pelayanan kepada pelanggan memerlukan komunikasi digital yang baik dan efektif. Apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif? Komunikasi efektif adalah makna oleh komunikator (penghantar pesan) dimaknai sama oleh komunikan (penerima pesan). Dalam konteks ini, komunikasi efektif mampu memberi solusi atau memenuhi kebutuhan si penerima pesan. Pendek kata, komunikasi yang memberi manfaat kepada orang lain.

content-is-king-

Maka, semua konten yang akan dibuat haruslah dimulai dengan positioning yang baik. Di sinilah tantangan lainnya. Di era media konvensional, positioning bisa dikontrol. Maksudnya, perusahaan dapat menggunakan media konvensional untuk membangun citra mereka seperti yang sudah ditetapkan dalam strategi positioning-nya.

Di era digital, bedanya, positioning tidak terjadi semudah seperti yang diharapkan perusahaan. Pelanggan ikut menciptakan positioning sebuah merek atau pelayanan. Apalagi bila merek tidak memiliki positioning yang jelas, bisa terjadi akhirnya pelanggan yang mengendalikan. Di era keterbukaan informasi saat ini, pelanggan relatif mudah menyebarkan pesan, melakukan perbincangan di berbagai tool media, dan akhirnya merekalah yang membentuk positioning dari merek tersebut. Oleh sebab itu, tujuan komunikasi dalam mempersiapkan konten adalah hal yang tak terelakkan.

Konten pun berbeda untuk setiap tool media. Di sinilah dituntut keluasan pengetahuan seorang kretor konten. Seorang kreator konten yang baik menjalankan tugasnya dengan mengumpulkan ide serta data. Kemudian melakukan riset untuk membuat konsep yang akan dijadikan sebuah konten. Selanjutnya, ia akan menghasilkan konten yang sesuai dengan tujuan komunikasi yang telah ditentukan.

Tak kalah penting, konten adalah apa yang membuat orang mengambil tindakan. Dan, kreator kontenlah yang bisa menggerakkan seseorang, komunitas, atau korporasi untuk mengambil tindakan. Bukan tak mungkin, dalam cakupan lebih luas, sebuah konten bisa menggerakkan orang-orang di kawasan tertentu hingga yang bersifat global. Dengan kata lain, konten yang mengubah dunia. Nah, siapa lagi kalau bukan kreator konten di balik perubahan dunia tersebut?

Yup, dialah kreator konten. Kreator konten akan bersinergi dengan para pemimpin bisnis dan pemangku kepentingan untuk mengelola informasi strategis dan teknis menjadi konten yang tepat sasaran. Maka, sudah sewajarnya kreator konten menduduki jabatan strategis yang turut menentukan strategi atau target perusahaan, institusi, atau bahkan negara.

Industri penyedia konten akan makin berkembang, kreatif, atraktif, dan inovatif. Perusahaan atau institusi akan makin banyak membuka posisi baru terkait konten medianya. Perguruan tinggi atau sekolah juga akan makin banyak yang membuka jurusan terkait konten. Industri terkait lainnya juga akan berkembang. Singkat kata, kreator konten akan mengubah aspek-aspek ekonomi, sosial, kemasyarakatan, pendidikan dalam suatu negara hingga skala global.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s